aku masih SMA, jadi ini masih kisah cinta ga jelas yang bisa dialamin remaja kayak aku,,, tapi kalian patut baca,, karena ini ditulis oleh "dia" untukku
ciee,,, baper
BINTANG
Langit mendung menyelimuti sore ini. Hiruk pikuk perkotaan sudah mulai
pudar ditelan malam. Hanya terlihat beberapa motor dan mobil yang berlalu
lalang. Begitu pula halnya di sekitar sebuah asrama tua.
Bangunan berlantai dua itu terlihat gelap dari luar.
Seorang lelaki muda
berperawakan tinggi dan kekar terlihat sedang duduk di tepi balkon lantai dua
asrama tua itu sembari menatap langit.
Namanya Adni, umurnya 16 tahun dan entah apa yang telah menimpanya, dia terlihat sangat
murung.
“HIDUP TIDAK ADIL!!” Teriakan
itu terdengar nyaring.
***
Kelas terlihat lengang. Jam
masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Adni dan beberapa temannya sedang
berbincang seru di bangku belakang kelas.
Adni yang tidak begitu
tertarik dengan topik pembicaraan pagi itu memilih untuk mengedarkan
pandangannya ke seisi kelas, dan tak sengaja melihat ke arah seorang perempuan
yang cantik.
“Itu
si Dea bukan sih? Yang kemaren terpilih jadi sekretaris kelas kita kan?” Adni
mencolek teman di sebelahnya.
“Iya,
bener. Kenapa emang?”
“Ah,
nggak. Cuman nanya doang.”
Maklum saja jika Adni belum hafal
teman kelasnya, mereka baru bersama dalam satu kelas ini selama satu minggu.
Suka.
Atau mungkin lebih tepatnya, Cinta. Itu yang dirasakan Adni sekarang. Melihat
paras Dea yang begitu cantik dan tingkah Dea yang lucu, hati Adni luluh. Adni
jatuh cinta padanya.
Setiap malam, Adni meluangkan
waktunya untuk melihat bintang di langit. Sebuah bintang Proximus menjadi perhatiannya, bintang paling terang dalam sejarah
umat manusia itu mengingatkannya pada kisah cintanya yang dulu. Dimana pujaan
hatinya kala itu bagaikan Proximus yang
menerangi langit malam. Tak terjangkau, namun sungguh indah. Akankah kisah kali
ini akan memunculkan Proximus baru di
angkasa?
***
Dua
bulan berlalu. Dea kini menjadi semakin populer. Dea orangnya sangat humoris
dan mudah bergaul dengan cowok maupun sesama cewek. Hingga, banyak murid cowok
lain yang tertarik dengannya. Tak terkecuali sang ketua kelas. Ahas namanya. Ahas
juga adalah seorang yang sangat mudah bergaul, itulah salah satu alasan dia
terpilih menjadi ketua kelas. Ahas sangat dekat dengan anggota kelasnya.
Adni sebenarnya suka pada Dea.
Namun, karena melihat Ahas yang begitu nyentrik, dia tidak jadi mengungkapkan
perasaannya. Hanya sesekali saja Adni berbicara dengan Dea.
“Ciee…
habis jalan-jalan. Bagi dong jajannya.” Dea memanggil Adni dari belakang.
“Ah!?
Oh? Nih.” Adni kaget dan spontan menyodorkan jajanannya.
“Eh?
Nggak. Becanda doang.” Dea tersenyum simpul lalu beranjak meninggalkan Adni.
Dea hanya tertawa kecil sepanjang
jalan menuju asrama putri sembari mengingat betapa dia tampak bodoh tadi di
depan Adni. Adni benar-benar lugu. Begitu pikirnya.
Suatu
pagi, Adni hendak bermain basket di lapangan sekolah bersama teman-temannya.
Ternyata, ada Dea dan beberapa murid cewek lain yang bermain di lapangan.
“Wuiihh…
Si Dea udah mahir aja nih main basketnya.” Yang pertama menyapa Dea adalah Ahas.
Lelaki itu pendek dan berbadan gempal.
“Iya
dong, Dea gitu loh!”
“Tumben datang pagi ke lapangan? Biasanya
sore-sore?”
“Kalau
sore biasanya rame, apalagi yang cowok pada gak mau ngalah. Kalian terus yang
main, kitanya nggak dikasih kesempatan buat unjuk diri.” Dea mengatakannya
sambil tertawa.
“Sombong
banget, kayak udah bisa main aja kalian.” Ahas ikut tertawa. “Sini, mau aku
ajarin gak?”
“Ayo!
Ajarin caranya nembak bola dong!”
“Pertama
kalian harus bisa mantulin bolanya dulu. Biar dribble-nya bagus.” Ahas menuju ke tengah lapangan dan memulai
lesnya pagi itu.
Mereka pun bermain bersama dengan asyiknya. Namun, Adni terlihat begitu terpukul. Dia dulu tidak memiliki keberanian untuk
mengungkapkan perasaannya, dan kini dia harus menerima konsekuensinya.
Lagipula dirinya juga bukan seorang yang mudah bergaul dengan siapapun seperti Ahas.
Jadi, dia harus bisa menerima kenyataan itu.
***
Semakin
ke sini semakin banyak tugas yang harus diselesaikan oleh kelas, sang ketua
kelas dengan sekretarisnya pun juga semakin intim.
“Dea,
kamu udah nyatet tugas-tugas kelas kita selama seminggu ini kan?”
“Udah
dong! Kenapa emang?”
“Nanti sore kita kumpul di
kelas ya? Bahas tentang tugas-tugas kelas.” Ahas mendekati bangku Dea.
“Oke siap, tapi kamu jangan
bicara gak jelas seperti pertemuan lalu ya? Ntar malah nyambung ke yang
kemarin.” Dea tertawa.
“Hehehe…
Tenang aja, kali ini nggak bakal terulang kok.” Hari juga ikut tertawa
Adni
kini terlihat sangat murung. Adni hanya terdiam. Dia tidak berani
mengatakan yang sebenarnya kepada Dea. Dia juga merasa tidak enak kepada Ahas. Tak ada yang
bisa dilakukannya kini. Ahas telah menjadi keseharian
dalam hidup Dea. Tak mengapa. Adni bisa
merelakannya. Meski perasaan cinta tetap ada.
Bagi Adni, Dea kini telah
menjelma menjadi bintang yang baru dalam hidupnya.
Sebuah Proximus baru mengangkasa di
hati Adni. Hanya bisa terlihat pesona anggunnya, tanpa bisa disentuhnya.
Namun, sesuatu masih
mengganjal di pikiran Adni. Senyuman Dea waktu itu menyisakan sebuah pertanyaan
di kepala Adni.
“Apakah
mungkin jika Dea ternyata tidak suka kepada Hari melainkan suka
kepadaku? Mungkinkah bintang di langit akan jatuh?”aku takut nih! itu pertanyaan looh? buat siapa? aku
bantu aku jawab dia yuk!