Selasa, 23 Februari 2016

Cerita cinta kita

hai, readers,, lama aku ga post di sini... soalnya banyak kerjaan apalagi aku masuk ke sekolah berbasiswa nih,, jadi harus bener-bener serius belajar dulu nih. selama perjalanan hidupku kemarin, aku bertemu banyak orang. termasuk "dia"!
aku masih SMA, jadi ini masih kisah cinta ga jelas yang bisa dialamin remaja kayak aku,,, tapi kalian patut baca,, karena ini ditulis oleh "dia" untukku
ciee,,, baper
BINTANG
Langit mendung menyelimuti sore ini. Hiruk pikuk perkotaan sudah mulai pudar ditelan malam. Hanya terlihat beberapa motor dan mobil yang berlalu lalang. Begitu pula halnya di sekitar sebuah asrama tua. Bangunan berlantai dua itu terlihat gelap dari luar.
Seorang lelaki muda berperawakan tinggi dan kekar terlihat sedang duduk di tepi balkon lantai dua asrama tua itu sembari menatap langit. Namanya Adni, umurnya 16 tahun dan entah apa yang telah menimpanya, dia terlihat sangat murung.
“HIDUP TIDAK ADIL!!” Teriakan itu terdengar nyaring.
***
Kelas terlihat lengang. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Adni dan beberapa temannya sedang berbincang seru di bangku belakang kelas.
Adni yang tidak begitu tertarik dengan topik pembicaraan pagi itu memilih untuk mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, dan tak sengaja melihat ke arah seorang perempuan yang cantik.
                “Itu si Dea bukan sih? Yang kemaren terpilih jadi sekretaris kelas kita kan?” Adni mencolek teman di sebelahnya.
                “Iya, bener. Kenapa emang?”
                “Ah, nggak. Cuman nanya doang.”
Maklum saja jika Adni belum hafal teman kelasnya, mereka baru bersama dalam satu kelas ini selama satu minggu.
                Suka. Atau mungkin lebih tepatnya, Cinta. Itu yang dirasakan Adni sekarang. Melihat paras Dea yang begitu cantik dan tingkah Dea yang lucu, hati Adni luluh. Adni jatuh cinta padanya.
Setiap malam, Adni meluangkan waktunya untuk melihat bintang di langit. Sebuah bintang Proximus menjadi perhatiannya, bintang paling terang dalam sejarah umat manusia itu mengingatkannya pada kisah cintanya yang dulu. Dimana pujaan hatinya kala itu bagaikan Proximus yang menerangi langit malam. Tak terjangkau, namun sungguh indah. Akankah kisah kali ini akan memunculkan Proximus baru di angkasa?
***
                Dua bulan berlalu. Dea kini menjadi semakin populer. Dea orangnya sangat humoris dan mudah bergaul dengan cowok maupun sesama cewek. Hingga, banyak murid cowok lain yang tertarik dengannya. Tak terkecuali sang ketua kelas. Ahas namanya. Ahas juga adalah seorang yang sangat mudah bergaul, itulah salah satu alasan dia terpilih menjadi ketua kelas. Ahas sangat dekat dengan anggota kelasnya.
Adni sebenarnya suka pada Dea. Namun, karena melihat Ahas yang begitu nyentrik, dia tidak jadi mengungkapkan perasaannya. Hanya sesekali saja Adni berbicara dengan Dea.
                “Ciee… habis jalan-jalan. Bagi dong jajannya.” Dea memanggil Adni dari belakang.
                “Ah!? Oh? Nih.” Adni kaget dan spontan menyodorkan jajanannya.
                “Eh? Nggak. Becanda doang.” Dea tersenyum simpul lalu beranjak meninggalkan Adni.
Dea hanya tertawa kecil sepanjang jalan menuju asrama putri sembari mengingat betapa dia tampak bodoh tadi di depan Adni.  Adni benar-benar lugu. Begitu pikirnya.
                Suatu pagi, Adni hendak bermain basket di lapangan sekolah bersama teman-temannya. Ternyata, ada Dea dan beberapa murid cewek lain yang bermain di lapangan.
                “Wuiihh… Si Dea udah mahir aja nih main basketnya.” Yang pertama menyapa Dea adalah Ahas. Lelaki itu pendek dan berbadan gempal.
                “Iya dong, Dea gitu loh!”
                “Tumben datang pagi ke lapangan? Biasanya sore-sore?”
                “Kalau sore biasanya rame, apalagi yang cowok pada gak mau ngalah. Kalian terus yang main, kitanya nggak dikasih kesempatan buat unjuk diri.” Dea mengatakannya sambil tertawa.
                “Sombong banget, kayak udah bisa main aja kalian.” Ahas ikut tertawa. “Sini, mau aku ajarin gak?”
                “Ayo! Ajarin caranya nembak bola dong!”
                “Pertama kalian harus bisa mantulin bolanya dulu. Biar dribble-nya bagus.” Ahas menuju ke tengah lapangan dan memulai lesnya pagi itu.
Mereka pun bermain bersama dengan asyiknya. Namun, Adni terlihat begitu terpukul. Dia dulu tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, dan kini dia harus menerima konsekuensinya. Lagipula dirinya juga bukan seorang yang mudah bergaul dengan siapapun seperti Ahas. Jadi, dia harus bisa menerima kenyataan itu.
***
                Semakin ke sini semakin banyak tugas yang harus diselesaikan oleh kelas, sang ketua kelas dengan sekretarisnya pun juga semakin intim.
                “Dea, kamu udah nyatet tugas-tugas kelas kita selama seminggu ini kan?”
                “Udah dong! Kenapa emang?”
“Nanti sore kita kumpul di kelas ya? Bahas tentang tugas-tugas kelas.” Ahas mendekati bangku Dea.
“Oke siap, tapi kamu jangan bicara gak jelas seperti pertemuan lalu ya? Ntar malah nyambung ke yang kemarin.” Dea tertawa.
                “Hehehe… Tenang aja, kali ini nggak bakal terulang kok.” Hari juga ikut tertawa
                Adni kini terlihat sangat murung. Adni hanya terdiam. Dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada Dea. Dia juga merasa tidak enak kepada Ahas. Tak ada yang bisa dilakukannya kini. Ahas telah menjadi keseharian dalam hidup Dea. Tak mengapa. Adni bisa merelakannya. Meski perasaan cinta tetap ada.
Bagi Adni, Dea kini telah menjelma menjadi bintang yang baru dalam hidupnya. Sebuah Proximus baru mengangkasa di hati Adni. Hanya bisa terlihat pesona anggunnya, tanpa bisa disentuhnya.
Namun, sesuatu masih mengganjal di pikiran Adni. Senyuman Dea waktu itu menyisakan sebuah pertanyaan di kepala Adni.
“Apakah mungkin jika Dea ternyata tidak suka kepada Hari melainkan suka kepadaku? Mungkinkah bintang di langit akan jatuh?”




aku takut nih! itu pertanyaan looh? buat siapa? aku
bantu aku jawab dia yuk!